Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Mei 2010

Khalil Gibran Berkata dalam Karya

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan
Ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah, melepaskan BUKAN akhir dari dunia
melainkan awal suatu kehidupan baru

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,
Mereka yang tersakiti,
mereka yang telah mencari
dan mereka yang telah mencoba
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan
mereka

CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan MASIH peduli terhadapnya
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH
menunggunya dengan setia
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata 'Aku
turut berbahagia untukmu'

Apabila cinta tidak berhasil, BEBASKAN dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas LAGI
Ingatlah, bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya
tapi ketika cinta itu mati, kamu TIDAK perlu mati
bersamanya


Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu
menang MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika
mereka jatuh


TEMAN SEJATI
mengerti ketika kamu berkata 'Aku lupa..'
Menunggu selamanya
ketika kamu berkata 'Tunggu sebentar'
Tetap tinggal
ketika kamu berkata 'Tinggalkan aku sendiri'
Membuka pintu
meski kamu BELUM mengetuk dan berkata
'Bolehkah saya masuk?'

MENCINTAI...
BUKANlah bagaimana kamu melupakan
melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN
BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan
melainkan bagaimana kamu MENGERTI

BUKANlah apa yang kamu lihat
melainkan apa yang kamu RASAKAN
BUKANlah bagaimana kamu melepaskan
melainkan bagaimana kamu BERTAHAN

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati
dibandingkan menangis tersedu-sedu
Air mata yang keluar dapat dihapus
sementara air mata yang tersembunyi
menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang

Akan tiba saatnya
di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN
karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN
karena kita menyadari
bahwa orang itu akan lebih berbahagia,
apabila kita melepaskannya.

Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang,
jangan lepaskan dia
jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu
benar-benar mencintai
MELAINKAN BERJUANGLAH demi cintamu
Itulah CINTA SEJATI

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA
berjalan bersama orang 'yang tersedia'
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai DARIPADA
orang yang berada di sekelilingmu
Lebih baik menunggu orang yang tepat
karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang
hanya dengan 'seseorang'

Surat dari Kekasih

Untukmu yang selalu Kucintai,

Saat kau bangun di pagi hari,

Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu,
bercerita, meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu
walaupun hanya sepatah kata.

Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang
indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang
lalu.

Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi
bekerja.

Tak sedikitpun kau menyadari Aku di dekat mu.

Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu,
tetapi engkau terlalu sibuk.

Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun.

Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu.

Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau
berlari ke telefon dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.

Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja
dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari.

Namun dengan semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk
untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.

Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara
kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak
sedikitpun menyapaKu.

Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu
dengan lembut sebelum menjamah makanan yang Kuberikan,
tetapi engkau tidak melakukannya.

Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan
Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu,
meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya
seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menghidupkan TV,
Aku tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak,
hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak
waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun
dan hanya menikmati siaran yang ditampilkan, hingga waktu-waktu
untukKu dilupakan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati
makananmu tetapi kembali engkau lupa menyebut namaKu
dan berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.

Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah.

Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKu kau sebut.

Tidak mengapa kerana mungkin
engkau masih belum menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.

Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.

Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.

Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu,
ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.

Baiklah..... engkau bangun kembali dan kembali Aku
menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan
memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu.

Tapi yang Kutunggu ... ah tak juga kau menyapaKu.

Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh lagi
kau masih tidak mempedulikan Aku.

Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada
pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKu.

Apakah salahKu padamu ...? Rezeki yang Kulimpahkan,
kesehatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan
yang Kuhidangkan , Keselamatan yang Kukaruniakan,
kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak
membuatmu ingat kepadaKu?

Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon
perlindunganKu, bersujud menghadapKu ... Kembali kepadaKu.
Yang selalu bersamamu setiap saat,


Tuhanmu....


-Khalil Gibran-

Ibu

Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan.
Pemberi harapan di dalam penderitaan, dan pemberi kekuatan di dalam
kelemahan.
Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan.
Manusia yang kehilangan ibunya bererti kehilangan jiwa sejati yang memberi
berkat dan menjaganya tanpa henti.
Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang susuk ibu.
Matahari adalah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannya dengan
pancaran panasnya.
Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai
matahari meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan
siulan burung-burung dan anak-anak sungai.
Dan Bumi ini adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bunga menjadi ibu yang
baik bagi buah-buahan dan biji-bijian.
Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh kekal,
penuh dengan keindahan dan cinta.


Khalil Gibran

Bangsa Kasihan

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya
Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.
Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.
Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.
Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.


Khalil Gibran